“Mungkin Ini Perjalanan Terakhirnya”, Alissa Wahid Ingatkan Layanan Empatik Bagi Jemaah Lansia
JAKARTA, GOWAMEDIA.COM - Jemaah haji lanjut usia (lansia) menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding kelompok usia lainnya. Tantangan tersebut tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mencakup aspek mental, sosial, hingga kesenjangan adaptasi terhadap teknologi dan informasi.
Penegasan itu disampaikan Alissa saat memberikan pembekalan di hadapan ribuan peserta Diklat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa, 20 Januari 2026.
“Secara alamiah, lansia mengalami penurunan kapasitas fisik, mulai dari pendengaran, penglihatan, pernapasan, hingga kekuatan tubuh. Banyak pula yang hidup dengan nyeri kronis, rematik, asam urat, maupun penyakit geriatrik lainnya,” jelas Alissa.
Putri Gus Dur ini menambahkan, dari sisi psikologis, jemaah lansia kerap menghadapi penurunan daya ingat, mudah tertekan, pelupa, serta kesulitan menerima penurunan fungsi diri. Kondisi tersebut semakin diperberat oleh perubahan konteks kehidupan, seperti menurunnya produktivitas dan penghasilan, meningkatnya risiko kemiskinan, rasa kesepian karena anak-anak telah mandiri, hingga hilangnya status sosial.
Tantangan lain yang tak kalah serius adalah kesenjangan teknologi dan informasi. Alissa mengungkapkan, tidak sedikit jemaah lansia yang belum memahami identitas diri selama berhaji.
“Ada yang tidak mengenali name tag-nya, tidak tahu kloter atau asal daerahnya, bahkan tidak paham menggunakan handphone. Dalam situasi seperti ini, mereka sepenuhnya bergantung pada bantuan petugas,” ujarnya.
Mitigasi Layanan dan Peran Petugas
Untuk menjawab tantangan tersebut, Alissa menekankan pentingnya mitigasi layanan yang terencana dan berkelanjutan bagi jemaah lansia. Beberapa langkah yang disorot antara lain penggunaan perangkat identitas yang jelas, penyampaian informasi secara berulang dan verbal, pemanfaatan tas kecil yang mudah dikenali, sistem respons darurat, serta pengawasan dan sweeping berkala oleh petugas.
Selain mitigasi teknis, ia juga membagikan tips praktis bagi petugas haji dalam melayani jemaah lansia, yakni melayani dengan sukacita, kewaspadaan tinggi, kesabaran, serta sikap proaktif tanpa harus menunggu jemaah meminta bantuan.
“Berikan mereka rasa aman. Bantu mengambil keputusan-keputusan sederhana, dan arahkan dengan tenang. Kalimat sederhana seperti, ‘Tunggu di sini ya, Bu,’ bisa sangat berarti bagi mereka,” pesannya.
Dalam penekanan yang lebih reflektif, Alissa mengingatkan bahwa pelayanan kepada jemaah lansia bukan sekadar tugas administratif, melainkan amanah kemanusiaan.
“Perjalanan haji adalah impian setiap muslim. Berikan pengalaman terbaik bagi para jemaah lansia. Mungkin ini adalah perjalanan terakhirnya,” tegas Alissa.
Ia juga menyinggung hasil evaluasi penyelenggaraan haji tahun sebelumnya yang mencatat adanya kritik terhadap petugas yang dinilai kurang proaktif. Karena itu, Alissa berharap melalui Diklat PPIH Arab Saudi 2026 dapat lahir petugas haji yang lebih empatik, sigap, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan, terutama dalam melayani jemaah lansia dan perempuan.(*)