Di Bawah Langit Terminal Malengkeri, Parmusi Sulsel Menyalakan Harapan

Di Bawah Langit Terminal Malengkeri, Parmusi Sulsel Menyalakan Harapan

MAKASSAR, GOWAMEDIA.COM — Di tengah riuh kendaraan yang keluar masuk kawasan terminal dan hiruk pikuk Kota Makassar yang tak pernah benar-benar tidur, puluhan ibu-ibu tampak duduk bersila di lantai Masjid Al Irsyad, Terminal Malengkeri, Senin (9/3) siang. Wajah-wajah mereka menyimpan harap. Sebagian datang sejak sebelum azan Zuhur berkumandang.

Hari itu, Dewan Pimpinan Wilayah Persaudaraan Muslimin Indonesia (DPW Parmusi) Sulawesi Selatan berbagi kebahagiaan dengan masyarakat miskin kota di kawasan Terminal Malengkeri. Aksi sosial itu dipusatkan di Masjid Al Irsyad, Jalan Malengkeri Raya No. 34 C, Kelurahan Mangasa, Kecamatan Tamalate, Makassar.

Kebahagiaan yang dibawa Parmusi hadir dalam bentuk paket sembako berisi beras, minyak goreng, gula pasir, mi instan, dan biskuit. Paket sederhana itu mungkin tampak biasa bagi sebagian orang, namun bagi mereka yang sehari-hari berjuang memenuhi kebutuhan hidup, bantuan tersebut menjadi berkah yang sangat berarti.

Pengurus Bidang Dakwah Parmusi, Jusmiati Lestari, menjelaskan bahwa kawasan Terminal Malengkeri dipilih sebagai titik penyaluran karena di balik gemerlap Kota Makassar sebagai kota metropolitan, masih banyak warga yang hidup jauh dari kata sejahtera.

“Di tengah megahnya bangunan kota ini, ternyata masih ada kehidupan yang berada di bawah standar. Itu yang mengetuk hati Parmusi,” ujarnya.

Menurut Jusmiati, banyak warga di sekitar terminal yang menggantungkan hidup pada pekerjaan serabutan dengan penghasilan terbatas. Bahkan ada yang sudah lebih dari 30 tahun bekerja sebagai penjaga sekaligus petugas kebersihan toilet umum di terminal.

“Ada juga yang bekerja sebagai pemulung, security, dan sebagian besar tinggal di rumah kontrakan bulanan. Untuk membeli kebutuhan sehari-hari saja mereka sering kesulitan,” jelasnya.

Kegiatan sosial ini bukan yang pertama dilakukan Parmusi. Sebelumnya, organisasi ini juga bergerak di Kecamatan Tombolo Pao, Kelurahan Tamaona, Kabupaten Gowa. Di sana Parmusi menyalurkan 100 mushaf Al-Qur’an sekaligus menggelar kegiatan pemberdayaan ekonomi umat melalui pelatihan pembuatan abon ikan, saus tomat, dan selai.

Bagi Parmusi, kegiatan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab moral untuk hadir di tengah masyarakat yang menghadapi berbagai problem kebangsaan dan keumatan.

Ketua DPW Parmusi Sulawesi Selatan, Dr. H. Abu Bakar Wasahua, SH, MH, dalam sambutannya berharap masyarakat penerima bantuan tidak sekadar menerima paket sembako, tetapi juga menjadi bagian dari pembinaan yang akan dilakukan Parmusi ke depan.

“Mudah-mudahan kegiatan ini mempererat hubungan persaudaraan antara Parmusi dan masyarakat sekitar masjid. Kehadiran Parmusi hari ini adalah wujud kepedulian sesama Muslim. Kita bersaudara, dan kita dituntut untuk saling bersilaturahmi melalui aksi sosial Ramadan ini,” ujar Abu Bakar penuh semangat.

Ia menambahkan, kebahagiaan sejati tidak pernah hadir sendirian. Ia lahir dari kepedulian terhadap orang lain.

“Semua orang ingin bahagia. Tapi kebahagiaan tidak akan berdiri sendiri tanpa kehadiran orang lain. Kalau kita ingin bahagia, maka kita harus hadir untuk membahagiakan orang lain,” katanya.

Menurutnya, Parmusi ingin terus hadir mendampingi masyarakat melalui program pembinaan, termasuk pembinaan keluarga dan keterampilan ekonomi bagi para ibu.

“Insya Allah, ke depan kami akan melakukan pembinaan kepada ibu-ibu, mulai dari pendidikan anak hingga keterampilan yang dapat membantu menopang ekonomi keluarga,” tuturnya.

Menanti dengan Setia

Meski acara baru dimulai pukul 14.00 WITA, para penerima bantuan sudah memadati masjid sejak sebelum waktu salat Zuhur. Mayoritas yang hadir adalah ibu-ibu, sebagian datang membawa anak-anak kecil mereka.

Ada pula anak-anak yang datang mewakili ibunya yang sedang sakit di rumah. Dari raut wajah mereka, terlihat jelas kelelahan hidup yang selama ini mereka jalani. Namun siang itu, senyum mulai merekah.

Untuk mencairkan suasana, panitia menggelar kuis ringan seputar pengetahuan Islam. Pertanyaan berkisar tentang rukun Islam, tanggal turunnya Al-Qur’an, tahun hijriyah, hingga nama malaikat penjaga surga.

Kuis dipandu oleh Muliaty Mastura dengan gaya santai yang mengundang tawa.

“Mau lima puluh ribu?” tanya Muliaty kepada para ibu yang duduk berbaris rapi.

“Mau!” jawab mereka serempak.

“Mau seratus ribu atau lima puluh?”

“Mau yang seratus!” sahut mereka sambil tertawa.

“Mau masuk surga semua?”

“Mauuu!” jawab mereka panjang dengan wajah cerah.

“Kalau mau masuk surga harus rajin salat. Ibadahnya di masjid ini ya. Pertanyaannya, siapa nama malaikat penjaga surga?”

Beberapa ibu mencoba menjawab, namun jawabannya belum tepat. Suasana pun pecah oleh tawa dan canda, membuat siang itu terasa hangat.

Di tengah keterbatasan hidup yang mereka jalani, kebersamaan sederhana di Masjid Al Irsyad menjadi pengingat bahwa masih ada tangan-tangan yang peduli. Bagi Parmusi, berbagi bukan sekadar memberi bantuan, tetapi menghadirkan harapan bahwa persaudaraan umat tetap hidup, bahkan di sudut-sudut kota yang sering luput dari perhatian. (*)