Diskusi Sastra Dalam Gelombang Kata "Ombak Laut" Karya Nawir Sultan
MAKASSAR, GOWAMEDIA.COM — Di tengah riuhnya perayaan literasi yang kian menggeliat, sebuah karya puisi kembali menemukan panggungnya. Buku kumpulan puisi berjudul “Ombak Laut” karya Nawir Sultan akan menjadi pusat perhatian dalam sebuah diskusi terbatas yang digelar di Rumah Puisi Arya STR, Makassar, Rabu (19/8/2026). Kegiatan ini tidak sekadar bedah buku, tetapi juga ruang refleksi bagi para pecinta sastra untuk menyelami makna, rasa, dan perjalanan kreatif sang penulis.
Acara ini menghadirkan sejumlah tokoh sastra dan budayawan yang akan membedah karya Nawir Sultan dari berbagai sudut pandang. Nama-nama seperti Anwar Nasyaruddin, M. Amir Jaya, Arwan D. Awing, Ishakim, hingga Syafruddin Muhtamar turut ambil bagian, bersama sejumlah figur lainnya yang memiliki rekam jejak kuat di dunia literasi dan kebudayaan. Kehadiran mereka diharapkan mampu memperkaya diskursus serta membuka ruang interpretasi yang lebih luas terhadap puisi-puisi dalam buku tersebut.
“Ombak Laut” sendiri dipandang sebagai representasi kegelisahan, harapan, sekaligus refleksi batin yang mengalir dalam bahasa puitik. Layaknya ombak, puisi-puisi dalam buku ini bergerak dinamis—kadang tenang, kadang menghantam—menggambarkan kompleksitas kehidupan manusia yang tak pernah benar-benar diam. Nawir Sultan, sebagai penulis, dikenal konsisten menghadirkan karya yang dekat dengan realitas sosial namun tetap memiliki kedalaman estetika.
Diskusi yang berlangsung mulai pukul 14.00 hingga 17.00 WITA ini diharapkan menjadi ruang dialektika antara penulis, pembaca, dan para pengamat sastra. Tidak hanya membedah teks, forum ini juga menjadi ajang mempertemukan gagasan, pengalaman, dan perspektif lintas generasi dalam memaknai karya sastra.
Dengan mengusung semangat “Sajak Mengalir, Makna Menyentuh, Jiwa Terus Bertumbuh,” kegiatan ini menegaskan bahwa sastra bukan sekadar rangkaian kata, melainkan energi yang hidup dan terus berkembang di tengah masyarakat. Diskusi “Ombak Laut” pun menjadi bukti bahwa gelombang literasi di Makassar terus bergerak—mengajak siapa saja untuk ikut menyelam dan menemukan makna di dalamnya.
Amir Jaya berharap, para penulis, seniman, dan sastrawan yang telah mendapat undangan terbatas ini, agar dapat meluangkan waktu sejenak, menyatukan narasi dan berbagi ide serta harapan.
"Bukan hanya terkait ombak laut, tapi lebih pada pengembangan kepenulisan sastra di Sulawesi Selatan," harapnya.(*)