Gema Yang Tak Pernah Menjadi Langkah.

Gema yang Tak Pernah Menjadi Langkah.

Oleh: Asrianto

Warga Sipil

Suatu malam saya duduk bersama beberapa kawan. Obrolannya sederhana, seperti percakapan yang sering terjadi ketika orang-orang yang sama-sama gelisah bertemu. Ada yang bercerita tentang keadaan yang terasa semakin tidak adil, ada yang mengkritik arah gerakan yang katanya mulai kehilangan tujuan, dan ada pula yang hanya mendengarkan sambil sesekali menimpali dengan kalimat pendek.

Percakapan itu tidak berlangsung di forum besar, tidak pula di ruang diskusi resmi. Hanya obrolan biasa di antara kawan-kawan yang sama-sama pernah percaya bahwa perubahan selalu dimulai dari kesadaran.

Di tengah percakapan itu, saya tiba-tiba teringat pada sebuah forum yang pernah saya hadiri.

Malam itu ruangan terasa hidup. Satu per satu orang naik ke podium, menyampaikan gagasan tentang perubahan, tentang gerakan, tentang masa depan yang katanya harus lebih progresif. Kata-kata mereka tersusun rapi, analisisnya terdengar tajam, dan kritik dilontarkan dengan penuh keyakinan. Sesekali tepuk tangan pecah di ruangan, beberapa orang mengangguk-angguk seolah semua yang diucapkan benar-benar akan segera menjadi kenyataan. 

Di dalam forum seperti itu, gagasan sering terdengar sangat meyakinkan. Dari podium, kata-kata terasa kuat, seolah mampu menggerakkan banyak orang sekaligus. Namun sering kali, semua itu hanya hidup di dalam forum.

Ketika acara selesai dan orang-orang kembali ke kesibukan masing-masing, gagasan yang tadi terdengar lantang perlahan memudar. Tidak ada arah baru yang benar-benar diperjuangkan. Tidak ada langkah yang dijaga bersama. Aktivitas tetap berjalan, tetapi terasa seperti kehilangan tujuan. Di situlah letak ironi yang sering kita hadapi: kata-kata begitu ramai, sementara gerakan terasa sepi.

Keresahan yang seharusnya menjadi energi perubahan justru sering berhenti sebagai keluhan yang terus diputar. Kita merasa telah berkontribusi hanya karena berhasil mengucapkan kritik dengan baik. Seolah tugas selesai ketika kegelisahan berhasil disampaikan di depan forum.

Padahal perubahan tidak pernah lahir dari keindahan kalimat semata. Gagasan hanya akan berarti jika ada orang-orang yang bersedia menjaganya setelah forum berakhir. Bukan hanya mengucapkannya, tetapi juga menjalankannya dalam sikap, dalam keputusan, dan dalam langkah-langkah kecil yang sering kali tidak terlihat. Masalahnya, tidak semua orang siap dengan konsekuensi itu. Jauh lebih mudah menjadi pengucap gagasan daripada penjaga arah. Lebih mudah berbicara tentang perubahan daripada bekerja perlahan untuk mewujudkannya.

Akhirnya kita sering berada dalam keadaan yang aneh: gagasan terus diproduksi, kritik terus disampaikan, tetapi arah tetap kabur. Diskusi berjalan di mana-mana, sementara kenyataan hampir tidak bergerak. Obrolan malam itu bersama kawan-kawan terasa sederhana, tetapi meninggalkan satu pertanyaan yang cukup mengganggu pikiran saya: apakah kita benar-benar ingin perubahan, atau kita hanya nyaman membicarakannya Sebab kehilangan arah bukan terjadi karena tidak ada orang yang pandai berbicara. Ia terjadi ketika terlalu banyak kata diucapkan, tetapi terlalu sedikit yang benar-benar dijalankan.(*)