Hikmah Ramadan 1447/2026: "Allah Senang Hamba Yang Banyak Berdoa"
SUNGGUMINASA, GOWAMEDIA.COM — “Allah senang kepada hamba yang banyak berdoa.” Pesan itu disampaikan , Lc., M.A., dalam ceramah tarawih di Masjid Agung Syekh Yusuf, Sungguminasa, Gowa, Selasa malam, 10 Maret 2026. Wakil Dekan I Fakultas Agama Islam itu mengajak jamaah memperbanyak doa, terutama di penghujung Ramadan.
Dalam tausiyah bertema “Doa, Adab, dan Keutamaannya”, Ilham menjelaskan bahwa doa merupakan sarana seorang hamba memohon kepada Allah SWT agar setiap usaha yang dilakukan dimudahkan dan dilancarkan.
Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW:
“Ad-du‘?’u mukhkhul ‘ib?dah” — Doa adalah inti dari ibadah (HR. Tirmidzi).
Menurutnya, hampir seluruh ibadah dalam Islam mengandung unsur doa. Karena itu manusia diperintahkan untuk senantiasa memohon kepada Allah SWT dalam setiap keadaan.
Ilham menjelaskan, berbeda dengan manusia yang kadang merasa terbebani jika terus dimintai sesuatu, Allah justru menyukai hamba yang terus memohon kepada-Nya.
“Kalau kita meminta kepada saudara atau teman, mungkin sekali dua kali tidak masalah. Tetapi kalau sudah berkali-kali biasanya mulai muncul berbagai alasan agar tidak memberi. Berbeda dengan Allah SWT. Semakin seorang hamba memohon kepada-Nya, Allah justru semakin senang,” ujarnya.
Menurut dia, hal itu karena manusia pada hakikatnya adalah hamba yang fakir dan sangat bergantung kepada Allah SWT.
Ia kemudian mengutip firman Allah SWT:
"Wa q?la rabbukum ud‘?n? astajib lakum"
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)
Selain itu Allah juga berfirman:
"Wa idz? sa’alaka ‘ib?d? ‘ann? fa inn? qar?b. Uj?bu da‘wata ad-d?‘i idz? da‘?n"
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Namun demikian, Ilham mengingatkan bahwa tidak semua doa langsung terwujud sesuai permintaan. Ada adab dan syarat yang harus diperhatikan.
Ia mengutip hadis Nabi SAW:
“Ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan tidak bersungguh-sungguh.” (HR. Tirmidzi).
Menurutnya, salah satu penghalang doa adalah hati yang tidak hadir ketika berdoa. Lisan memohon kepada Allah, tetapi hati memikirkan hal lain.
Ilham menambahkan, doa seorang hamba tidak pernah sia-sia. Jika tidak dikabulkan sesuai permintaan, Allah dapat menggantinya dengan cara lain, misalnya menjauhkan seseorang dari musibah yang nilainya sebanding dengan permohonannya.
“Kadang kita meminta A, tetapi Allah memberi B, karena itulah yang terbaik bagi kita,” katanya.
Selain itu, doa juga bisa tertunda karena adanya dosa yang menjadi penghalang. Karena itu seorang hamba perlu melakukan muhasabah dan membersihkan diri.
Ia memberi perumpamaan seorang anak yang pulang bermain dengan tangan kotor lalu meminta kue kepada ibunya. Sang ibu biasanya tidak langsung memberikannya, tetapi meminta anak tersebut membersihkan tangannya terlebih dahulu.
“Begitulah juga dengan kita di hadapan Allah. Jiwa kita harus dibersihkan agar doa mudah dikabulkan,” ujarnya.
Dalam ceramah itu, Ilham juga menyinggung hadis ketika Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang doa yang sebaiknya dibaca jika bertemu malam Lailatul Qadar.
Nabi SAW mengajarkan doa:
“All?humma innaka ‘afuwwun tu?ibbul ‘afwa fa‘fu ‘ann?.”
(Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku). (HR. Tirmidzi).
Ilham juga mengutip pandangan ulama besar Ibnu Qayyim al-Jauziyah yang menyatakan bahwa apabila Allah benar-benar mengabulkan doa seorang hamba, maka berbagai kebaikan akan datang dengan sendirinya.
Ia menutup ceramahnya dengan mengajak jamaah memaksimalkan ibadah di akhir Ramadan dengan memperbanyak doa.
“Perbanyaklah doa, karena Allah senang kepada hamba yang banyak memohon kepada-Nya,” kata Ilham. (*)