Hikmah Ramadan 1447/2026: Alquran Dan Keberkahan Hidup Manusia

Hikmah Ramadan 1447/2026:
Alquran dan Keberkahan Hidup Manusia

MAKASSAR, GOWAMEDIA.COM— Ceramah tarawih di Masjid Jamiul Ihsan, Toddopuli Raya, Kota Makassar, Jumat (6/3/2026), mengangkat tema “Alquran dan Keberkahan Hidup Manusia”. Penceramah, KH Sudirman, mengajak jamaah menjadikan Alquran sebagai sumber keberkahan dalam kehidupan, baik secara pribadi maupun dalam rumah tangga.

Dalam tausiyahnya, KH Sudirman menjelaskan bahwa turunnya Alquran memiliki dua bentuk. Pertama, Alquran diturunkan secara sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia di Baitul Izzah pada malam 17 Ramadan. Kedua, Alquran diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad selama 23 tahun melalui perantaraan malaikat Jibril.

“Peristiwa yang kita kenal sebagai Nuzulul Quran adalah turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad, yaitu surat Al-Alaq, setelah Alquran diturunkan ke langit dunia,” ujar KH Sudirman di hadapan jamaah tarawih.

Ia menuturkan, turunnya Alquran membawa perubahan besar bagi masyarakat Arab di Makkah yang sebelumnya hidup dalam masa jahiliyah. “Alquran menjadikan masyarakat yang sebelumnya penuh kegelapan menjadi masyarakat yang penuh berkah dan petunjuk,” katanya.

Menurut dia, kemuliaan Alquran juga membuat banyak hal di sekitarnya menjadi mulia. Malam paling mulia adalah Lailatul Qadr karena pada malam itulah Alquran diturunkan. Malaikat paling mulia adalah Jibril karena menjadi perantara turunnya wahyu. Manusia paling mulia adalah Nabi Muhammad karena menjadi penerima pertama Alquran.

“Umat yang paling mulia adalah umat Nabi Muhammad karena menerima Alquran sebagai pedoman hidup. Bahkan tanah yang paling mulia adalah Makkah dan Madinah karena di sanalah Alquran pertama kali turun,” jelasnya.

KH Sudirman menegaskan bahwa keberkahan Alquran akan dirasakan oleh siapa saja yang membaca dan memahaminya dengan jujur dan sungguh-sungguh. “Orang yang dekat dengan Alquran hatinya akan dipenuhi keberkahan. Ia akan lebih sabar, lebih bersyukur, dan hatinya menjadi tenang,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan Alquran dalam kehidupan rumah tangga. Menurutnya, keluarga yang membiasakan membaca Alquran akan merasakan keberkahan dalam kehidupannya.

“Rumah tangga yang di dalamnya suami istri selalu membaca Alquran akan berbeda dengan rumah tangga yang jauh dari Alquran. Jika membaca dengan memahami maknanya, terutama ketika menghadapi masalah, keberkahannya jauh lebih terasa,” ujarnya.

KH Sudirman menambahkan, banyak persoalan rumah tangga muncul karena hilangnya keberkahan Alquran. Ia mengisahkan pengalaman ketika didatangi pasangan suami istri yang ingin bercerai meski secara ekonomi tergolong mapan.

“Ada yang datang kepada saya ingin bercerai, padahal penghasilan keduanya puluhan juta rupiah. Masalahnya bukan pada harta, tetapi karena rumah tangga mereka kehilangan keberkahan Alquran,” tuturnya.

Dari sisi pahala, kata dia, membaca Alquran tetap bernilai ibadah meskipun hanya melafalkan huruf-hurufnya. 

“Membaca Alquran meski belum memahami maknanya tetap mendapat pahala. Setiap huruf bernilai pahala,” jelasnya.

Namun, tingkat tertinggi dalam berinteraksi dengan Alquran adalah membaca sekaligus memahami maknanya serta menjadikannya sebagai petunjuk hidup.

“Alquran tidak hanya dibaca oleh lisan, tetapi harus dijadikan hudan, petunjuk dalam kehidupan,” kata KH Sudirman.

Ia berharap momentum peringatan Nuzulul Quran pada Ramadan ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk kembali menjadikan Alquran sebagai penasihat dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga momentum Nuzulul Quran ini membuat kita menjadikan Alquran sebagai penasihat di rumah kita. Insya Allah hidup kita akan penuh berkah—berkah rezeki, berkah umur, dan keberkahan dalam seluruh kehidupan,” ujarnya.