Hikmah Ramadan 1447/2026 "Konsisten Beribadah Pasca-Ramadan"

Hikmah Ramadan 1447/2026

SUNGGUMINASA, GOWAMEDIA.COM — Ceramah tarawih di Masjid Agung Syekh Yusuf Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Rabu (18/3/2026), menghadirkan Ustad H. Zainal Timung, S.Pd., M.Pd dengan tema “Menjaga Konsistensi Ibadah Pasca-Ramadan.” Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan pentingnya mempertahankan semangat ibadah setelah bulan suci berakhir.

Dalam pembukaan ceramahnya, Zainal Timung menyampaikan bahwa berakhirnya Ramadan merupakan kehilangan besar bagi umat Islam. Ia mengutip riwayat yang menjelaskan bahwa ketika Ramadan berlalu, langit, bumi, dan para malaikat seakan bersedih karena berakhirnya bulan penuh ampunan, saat amal dilipatgandakan, sedekah diterima, dan azab ditahan.

“Ramadan adalah momentum terbaik yang Allah berikan. Pertanyaannya, apakah kita mampu menjaga konsistensi ibadah setelahnya?” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia menyoroti fenomena yang kerap terjadi, yakni menurunnya kualitas ibadah pasca-Ramadan. Masjid yang sebelumnya ramai menjadi lengang, sementara pusat perbelanjaan justru dipenuhi. Padahal, menurutnya, keberhasilan Ramadan justru diukur dari kesinambungan amal setelahnya.

Zainal juga mengingatkan sabda Nabi Muhammad SAW tentang keutamaan waktu-waktu tertentu,

“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadan adalah bulan umatku.” (HR. al-Dailami, meski statusnya diperselisihkan ulama, maknanya mendorong memuliakan Ramadan)

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa salat berjamaah bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan spiritual seorang Muslim. Ia mengutip hadis sahih:

“Barang siapa melaksanakan salat Isya berjamaah, maka seakan-akan ia telah salat setengah malam. Dan barang siapa melaksanakan salat Subuh berjamaah, maka seakan-akan ia telah salat sepanjang malam.” (HR. Muslim)

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya manusia mengetahui keutamaan salat Isya dan Subuh berjamaah, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menurutnya, hadis ini menunjukkan betapa besar perhatian Rasulullah terhadap konsistensi ibadah umatnya, khususnya salat berjamaah, terutama setelah Ramadan.

Selain itu, ia mengajak jamaah untuk terus menjaga interaksi dengan Al-Qur’an.

“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim)

Zikir juga ditekankan sebagai amalan ringan namun berpahala besar dan menjadi pelindung dari berbagai keburukan. Ia mengingatkan bacaan-bacaan sederhana seperti:

“Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar” yang memiliki keutamaan besar di sisi Allah.

Dalam aspek sosial, ia mengutip firman Allah SWT:

“(Yaitu) orang-orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, menahan amarah, dan memaafkan orang lain…” (QS. Ali Imran: 134)

Ayat tersebut, menurutnya, menjadi indikator ketakwaan yang harus terus dijaga setelah Ramadan.

“Ramadan adalah madrasah yang menggembleng hati dan jiwa kita. Jangan sampai setelah sebulan dilatih, kita kembali lalai,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya memperbanyak zikir sebagai benteng dari godaan setan, serta menyiapkan doa-doa terbaik di penghujung Ramadan. Selain memohon ampunan, umat Islam dianjurkan berdoa agar diberi umur panjang dan kesempatan bertemu kembali dengan Ramadan di tahun berikutnya.

Menutup ceramahnya, Zainal Timung mengajak seluruh jamaah untuk tidak hanya menjaga, tetapi juga meningkatkan kualitas ibadah setelah Ramadan, sehingga nilai-nilai yang diperoleh selama bulan suci benar-benar membekas dalam kehidupan sehari-hari.(*)