Hikmah Ramadan 1447/2026: Saat Galau, Bertanyalah Kepada Alquran

Hikmah Ramadan 1447/2026:
Saat Galau, Bertanyalah kepada Alquran

KATANGKA, GOWAMEDIA.COM— Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Prof Dr H Arifuddin Ahmad, mengajak umat Islam menjadikan Alquran sebagai rujukan utama dalam menghadapi kegelisahan hidup. Menurutnya, ketika manusia dilanda kebingungan dan kegelisahan, jawaban yang menenangkan dapat ditemukan dalam petunjuk wahyu.

Pesan itu disampaikan Prof Arifuddin dalam ceramah tarawih di Masjid Syekh Yusuf Lakiung, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Sabtu (6/3/2026).

“Kalau manusia lagi galau, maka bertanyalah kepada Alquran,” ujar Prof Arifuddin di hadapan jamaah.

Ia menjelaskan, manusia diciptakan sebagai makhluk yang dimuliakan karena dianugerahi akal. Namun pada saat yang sama manusia juga memiliki hawa nafsu, sehingga akal membutuhkan bimbingan wahyu agar tidak tersesat.

“Manusia diberi akal sebagai ciptaan paling sempurna. Tapi manusia juga punya nafsu, karena itu akal harus dipandu oleh wahyu,” katanya.

Prof Arifuddin mengutip firman Allah SWT dalam Alquran yang menegaskan keterbatasan ilmu manusia. Dalam Surah Al-Isra ayat 85 Allah berfirman:

"Wa maa uutiitum minal 'ilmi illa qaliila"
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

Karena itu, kata Guru Besar Ilmu Hadia ini, ilmu yang dimiliki manusia seharusnya digunakan untuk kemaslahatan, bukan untuk kepentingan yang merugikan orang lain.

“Ada orang mencari ilmu untuk membodohi orang lain. Ada juga yang mencari ilmu hanya untuk status sosial. Padahal ilmu itu harus bermanfaat dan membuat manusia menjadi lebih kreatif,” ujarnya.

Menurut dia, kecerdasan tanpa iman justru dapat menjadi ancaman bagi kehidupan. Ia mengingatkan bahwa orang pintar yang tidak beriman bisa membawa kerusakan yang lebih besar.

“Orang pintar tapi tidak beriman itu berbahaya. Lebih berbahaya lagi kalau orang bodoh dan tidak beriman,” katanya.

Dalam ceramahnya, Prof Arifuddin juga menyinggung hikmah turunnya Alquran secara berangsur selama 23 tahun kepada Nabi Muhammad SAW. Hal itu, menurutnya, merupakan bentuk pendidikan ilahi bagi umat manusia.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 106:

"Wa quraanan faraqnaahu litaqraahu ‘alan naasi ‘alaa muktsin wa nazzalnaahu tanziilaa."

“Dan Alquran itu Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan, dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.”

Mantan Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Alauddin ini, juga menjelaskan, meski Alquran sangat erat dengan bulan Ramadan, tidak semua ayat diturunkan pada bulan tersebut. Namun Ramadan tetap menjadi momentum turunnya wahyu pertama, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:

"Syahru Ramadhaanal ladzii unzila fiihil Qur`aanu hudal linnaasi wa bayyinaatim minal hudaa wal furqaan."

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil.”

Prof Arifuddin juga mengingatkan pentingnya menjaga hati atau qalbu. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim:

"Alaa wa inna fil jasadi mudhghah, idzaa shaluhat shaluhal jasadu kulluh, wa idzaa fasadat fasadal jasadu kulluh, alaa wa hiya al-qalb."

“Ketahuilah, dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”

Menurutnya, dalam diri manusia juga terdapat unsur ruh yang membuat manusia memiliki dimensi spiritual. Karena itu, ibadah salat pada hakikatnya merupakan dialog antara manusia dengan Tuhannya.

“Salat itu aktivitas dialog manusia dengan Tuhan. Aktivitas transenden yang melahirkan kesadaran keilahian,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW merupakan nikmat besar bagi umat manusia karena menjadi petunjuk (hudan). Ketika manusia mampu mengendalikan nafsunya dengan bimbingan wahyu, maka hati menjadi tenang dan pikiran menjadi jernih.

Ia menyebut kondisi itu sebagai keadaan ketika Alquran benar-benar menjadi pengarah dalam kehidupan manusia.

“Ketika wahyu menjadi pedoman hidup, maka hati menjadi tenang dan pikiran jernih. Dalam bahasa sederhana, Alquran itu menjadi ‘CEO’ bagi dirinya,” katanya.

Dalam ceramahnya, Prof Arifuddin juga menyinggung fenomena yang sering terjadi di masjid-masjid menjelang akhir Ramadan, ketika jumlah jamaah tarawih biasanya berkurang.

“Biasanya menjelang akhir Ramadan saf makin maju dan tarikan mal makin kuat,” katanya.

Namun ia mengajak jamaah untuk tetap berprasangka baik.

“Kita husnuzan saja. Bisa jadi kaum muslimin salat tarawihnya di rumah. Yang penting ibadah mahdhahnya semakin sungguh-sungguh,” ujarnya.

Ia berharap Ramadan tidak hanya menjadi momentum peningkatan spiritualitas, tetapi juga menjadi sarana membangun peradaban melalui amal-amal kebaikan.

“Semoga Ramadan ini bukan hanya menjadi bulan spiritual, tapi juga menjadi sekolah peradaban. Apa yang kita lakukan bisa menjadi amal jariyah,” kata Prof Arifuddin.