Membaca Harmaun Yang Tak Pernah Mati

Membaca Harmaun yang tak Pernah Mati

Oleh: Muliaty Mastura Yusuf

Banyak ulasan dari para sastrawan, jurnalis, dan akademisi tentang novel Harmaun yang dijahit penulis H. Andi Wanua Tangke. 

Ulasan-ulasan tersebut dikirimkan ke saya. Setiap mendapat kiriman, saya selalu memberi jempol, meski saya sendiri tidak begitu serius dan paham, siapa itu Harmaun dalam novelnya? 

Novel ini telah dicetak dua kali pada Juni 2026. Penulis adalah senior saya di Harian Berita Kota Makassar. Ketika saya bergabung di Berita Kota pada 1997 yang berkantor di Jalan Abdullah Dg Sirua, ayah dua anak itu sebagai Redaktur Pelaksana dan saya reporter bidang hukum yang sehari-hari meliput di Pengadilan Negeri Makassar, Jalan  Kartini. 

Lama tak jumpa setelah kami sudah meninggalkan Berita Kota pada 2001 silam. Kami bertemu kembali di acara syukuran pengukuhan Guru Besar Prof. H. Firdaus Muhammad, di Komplek Royal Spring, 2025.

Sampai hari ini,  Wanua masih produktif menulis dan setiap mengakhiri perbincangan, menitip pesan untuk saya tetap berkarya. 

Motivasi untuk terus menulis begitu kuat. Sama kuatnya ketika bicara tentang Harmaun. 

Rasa penasaran saya dengan tokoh utama Harmaun dalam kisah ini, tak pernah surut. Meski, beberapa ulasan dari para penulis telah saya baca, rasa-rasanya tidak lengkap bila saya tidak membaca isi buku itu. 

Tiba-tiba di hari yang cerah,  penulis mengirim pesan. "Minta tolong ya kirimkan alamat rumahta'. Saya mau kirimkan Harmaun, " begitu pesan singkatnya. 

"Alhamdulillah, " kata saya dalam hati. Penuh semangat saya mengirimkan alamat lengkap. Katanya, buku itu akan dikirim via pos, walau saya menyarankan dikirim via grab atau gojek. 

"Sudah tibami Harmaun di rumahta' dinda Muly?"

"Belum, kak. "

"Saya kira sudah tiba... "

"Belum ada ini, kak... "

Jumat 24 Juli, ternyata ada telpon dari pak Pos yang sudah 'tenggelam'. Pak pos memfoto rumah saya berikut paket terbungkus amplop coklat. Tertulis nama lengkap penerima dan pengirim beserta nomor HP. Saya cepat membalas WAnya dan memohon maaf. 

Sabtu 25 Juli 2026, agenda mappettuada keluarga di Tallasa City. Sambil menunggu iring-iringan rombongan, saya membersihkan nomor-nomor HP yang tidak dikenal. Penelepon bertubi-tubi masuk seakan tak mengenal waktu. Begitu selesai menghapus nomor penelepon gelap, HP berdering lagi. Antara mau membuka atau tidak. Tapi, akhirnya saya membukanya. Eh, dari Pak Pos. 

Dia minta dikirimkan maps. Lalu saya pun mengirim maps rumah di gerbang Tallasa City. Kupikir sudah aman. Lalu, kami pun memasuki gedung tempat acara mappettuada. Di tengah acara, datang kabar dari grup Whatsapp alumni wartawan Harian Fajar bahwa kawan kami. H. Mustafa Kufung meninggal dunia jatuh dari sepeda di CPI. Saya menjadi tidak fokus. 

Tak lama kemudian, saya membaca pesan dari Pak Pos. 

"Bu, maps yang dikirim tadi, itu alamat Makassar, bukan Gowa. Sebenarnya ibu ini tinggal di Makassar atau Gowa, " tulis pesan itu. 

"Astaghfirullah, saya lupa Pak. Tadi saya mengirim maps di gerbang Tallasa City. Maaf ya Pak. Tunggu saya akan kirim ulang. "

"Baik, " jawab Pak Pos. 

Baru saya mau sampaikan, kalau bisa, Senin saja diantarkan, tapi HP sudah ditutup. Mengapa Senin diantar? karena setelah mappettuada mau melayat dan setelah itu lanjut ke Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. 

Namun, di perjalanan (Jeneponto) telepon berdering. Untung jaringan bagus. Pak Pos sudah berada di depan rumah. Tapi rumah tutup tak ada penghuninya. Karena Pak Pos sudah dua kali datang, saya lalu meminta agar menitip ke tetangga. Dia pun memfoto sesi penerimaan buku itu. Saya juga cepat-cepat menelpon mbah Miftah untuk menerima buku tersebut. Alhamdulillah, akhirnya novel Harmaun sudah sampai di tangan saya, setelah dua hari dari Bantaeng. 

***

Harmaun yang dikisahkan, selalu ada di tiap zaman. Tokoh Harmaun tetap hidup dan selamanya hidup di zaman yang berbeda. Membaca Harmaun, seolah menyaksikan sosok yang tak pernah mati dalam menyampaikan kebenaran. 

Novel ini mengisahkan seorang tokoh biasa yang menjadi korban ketidakadilan di tengah gejolak politik. Meski dituduh terlibat organisasi underbouw PKI, ia tetap gigih pada pendiriannya dan menolak mengaku di hadapan para interogator. Penangkapan yang terjadi secara sewenang-wenang di subuh hari di depan istri dan putrinya, dengan mata ditutup lalu diseret ke truk oleh tentara, menggambarkan betapa rapuhnya hukum saat "perintah komandan" lebih berkuasa daripada bukti.

Melalui kisah ini, penulis menyampaikan amanat tentang pentingnya integritas, keberanian untuk jujur dan kritik terhadap kekuasaan yang menindas rakyat kecil. Novel ini tidak hanya menyentuh, tetapi juga menjadi catatan sejarah kelam agar tragedi serupa tidak terulang. 

Cerita dalam novel ini, membuat rasa penasaran begitu meleleh. Karena banyak rahasia-rahasia yang tidak terungkap di balik markas militer. Apalagi bila dia sebagai tahanan politik, kisahnya tentu menjadi gurih. 

Kepiawaian penulis dengan menghadirkan sosok perempuan misterius di mata Harmaun. Perempuan ini, ternyata memegang kunci tahanan. Mengapa bisa? Ya karena mendapat perintah dari salah seorang tentara. Tentara itulah yang menyuruh perempuan itu yang belakangan diketahui sebagai ibu kantin. Perempuan setia mengantarkan kopi di ruang tahanan Harmaun di waktu salat subuh. H. 40.

Harmaun yang memiliki kemampuan membujuk ibu kantin bercerita mengenai siapa dia sesungguhnya. Cerita ini semakin meningkatkan tensi mengejar alurnya, apakah memang ibu kantin adalah mata-mata yang dikirim untuk mengubah pendirian Harmaun? 

Ternyata,  ibu kantin itu adalah tahanan yg dituduh sebagai anggota Gerwani. Dia tidak dimasukkan ke sel lantaran statusnya sebagai lugu. 

Bagi Harmaun, dia ibarat malaikat yang mengantarkan sisi-sisi misterius tahanan. Dia akhirnya dapat membongkar kisah-kisah penghuni tahanan yang disiksa seperti binatang tanpa ampun dan belas kasihan. 

Kisah ini justru membuat pembaca penasaran dan ingin melanjutkan bacaannya hingga tuntas. 

Harmaun memelas pada ibu kantin untuk menceritakan semuanya, sebelum detak-detak sepatu laras menghampiri mereka. 

"Ceritakanlah sebelum Ibu keluar dari kamar ini." Mendengar permintaan itu, ibu kantin kembali bertanya, "Betul apa yg aku akan sampaikan, kau tidak akan menyampaikan kepada siapa pun?"

"Percayalah Ibu. Bagiku  Ibu adalah penolong. Meski tak punya kekuatan untuk membebaskan aku dari penyiksaan lahir batin ini. Namun dengan keikhlasan Ibu memberikan informasi rahasia mengenai keadaan markas dan para tahanan, tentu aku sangat bersyukur dan berterima kasih..." H. 53

Setelah ibu kantin bercerita bahwa  kakaknya dituduh Gerwani dan suaminya BTI, lalu ibu kantin pun ditangkap dituduh sebagai anggota Gerwani, padahal tdk tahu apa itu Gerwani. Rupanya nasib serupa dialami. Cerita ibu kantin membuat Harmaun kehilangan semangat menikmati gurihnya kopi yang sudah mulai dingin. H. 54

Dalam benaknya, betapa kacaunya cara berpikir dan bertindak penguasa dalam memperlakukan rakyatnya. Kebenaran sepihak ini terus melahirkan malapetaka dan penderitaan rakyat. Lantaran penguasa memakai cara-cara paksa, akhirnya mereka para korban memilih bungkam, meski pedih. Perlawanan adalah bentuk kesia-siaan dan melahirkan penderitaan tak berujung. H.54-55.

Banyak pesan yang penulis sampaikan. Seperti  kepada ibu kantin yang belakangan diketahui bernama Siti Mariam. 

"Jangan bersedih panjang. Berdamailah dengan nasib. Kehidupan ini sementara. Tidak ada kekuasaan yang langgeng. Sekuat apa pun rezim itu pasti berakhir. Semua punya sejarah. Meski kesadaran seperti itu tidak mudah menanamkan dalam diri...." H. 83

"Hidup itu hanya sekali. Jangan pernah menyiakannya. Selalu berbuat baik kepada sesama. Berpeganglah kepada tonggak kejujuran.... " H. 121

Novel  185  halaman diterbitkan Pustaka Refleksi Makassar ini, sangat menggugah. Enak dibaca dan runtut. Sekali membaca seolah kita tidak mau ada  spasi, karena rasa penasaran yang mengalir  untuk menuntaskan bacaan. Pun penulis ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa sampaikanlah kebenaran itu meskipun pahit. 

"Jangan pernah berharap pertolongan di markas. Di sini tidak mengenal perikemanusiaan. Semua tentara di markas hanya menjalankan perintah. Laksanakan. Sependapat atau tidak, apa kata komandan, itu yang jadi. Tak ada kompromi.... " H. 129.

Harmaun membuktikan idealisme dan integritas yang kental dan tajam. Dalam interogasi yang cukup panjang, dia tetap pada pendiriannya menolak semua tuduhan sepihak.  Namun, keberaniannya mengatakan apa yang sebenarnya, justru tidak menguntungkan nasibnya. Dia bersimbah darah hingga tidak bertemu lagi dengan istri dan putri semata wayangnya. Kejam sekali!(*)