Ramadan 1447 H, Masjid Raya Sheikh Zayed Siapkan 7.000 Nasi Kotak Dan Takjil Tiap Hari
SURAKARTA, GOWAMEDIA.COM — Bulan Ramadan selalu datang dengan denyut yang berbeda. Ia bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender hijriah, tetapi momentum ketika masjid-masjid di seluruh penjuru negeri bersiap menjadi pusat ibadah, pelayanan, sekaligus perjumpaan umat.
Menjelang Ramadan 1447 Hijriyah, suasana itu terasa kuat di Masjid Raya Sheikh Zayed, Jalan Ahmad Yani No. 28, Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah. Masjid megah yang dibangun atas inisiatif Putra Mahkota Uni Emirat Arab, Mohammed bin Zayed Al Nahyan, dan diresmikan pada 2021 sebagai simbol persahabatan dengan Indonesia ini, bersiap menyambut lonjakan jamaah selama bulan suci.
Intensitas pengunjung dipastikan meningkat signifikan. Untuk itu, panitia menyiapkan sedikitnya 7.000 nasi kotak dan 7.000 paket takjil setiap hari. Area buka puasa dipusatkan di tenda-tenda putih yang tertata rapi di sekitar kompleks masjid, menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat dan tertib.
Sebanyak 180 karyawan diturunkan untuk melayani jamaah, termasuk 40 petugas keamanan yang bersiaga menjaga ketertiban dan kenyamanan.
“Alhamdulillah, untuk Ramadan panitia telah siap bekerja dan menjamu para tamu Allah,” ujar Dika, salah seorang karyawan masjid.
Masjid ini mampu menampung sekitar 17 ribu jamaah dan terdiri dari tiga lantai. Lantai dua difungsikan sebagai ruang salat utama, sementara lantai tiga menjadi perpustakaan. Tersedia pula ruang VIP yang diperuntukkan bagi tamu kunjungan kenegaraan, kementerian, maupun tamu resmi lainnya.
“Lantai dua ruang salat utama, lantai tiga perpustakaan. Ada juga ruang VIP. Ruang ini disiapkan untuk tamu kunjungan kenegaraan, kementerian, dan lainnya,” jelas Dika yang mengaku baru tiga bulan bekerja di Masjid Zayed.
Selama Ramadan, masjid mulai dibuka pukul 03.00 WIB untuk pelaksanaan salat tahajud dan ditutup pukul 21.00 WIB. Kebijakan ini diambil demi menjaga kebersihan dan kenyamanan ruang ibadah.
“Ruang salat utama ditutup pukul sembilan malam, untuk memudahkan petugas cleaning area. Karena kalau terus dibuka, nanti tidak ada kesempatan bagi petugas bersih-bersih. Tapi, di luar ruang salat, itu ditutup pukul sepuluh malam,” urai Dinda.
Bagi Dinda, bekerja di lingkungan masjid memberikan pengalaman yang tak tergantikan. Ia merasa bersyukur karena pengelola memberikan toleransi bagi karyawan, termasuk fasilitas ruang menyusui.
“Seperti saya yang punya bayi. Kalau waktunya menyusui, saya balik ke rumah atau menyusui di sini. Ada ruangan yang disiapkan. Jadi, semua serba lengkap. Saya menyusui bayi, bukan kendala bekerja di masjid ini. Itu saya senangnya,” tuturnya.
Namun ia tak menampik adanya tantangan. Dengan ribuan jamaah dan wisatawan yang datang setiap hari, menjaga kebersihan menjadi pekerjaan yang tidak ringan.
“Semua yang datang ke sini, membawa doa dan harapan. Tetapi ada juga yang kadang kurang paham tentang arti kebersihan. Misalnya, di toilet, bagaimana buang air pada tempatnya. Tidak mandi di saat banyak yang antre dan lainnya,” kata Dinda sambil tersenyum ramah.
Terkait status kepegawaian, para karyawan tidak digaji oleh pemerintah daerah. Mereka menerima upah sesuai UMR melalui perusahaan pengelola yang berpusat di Jakarta, dengan sistem absensi yang terintegrasi langsung dari pusat.
Kajian Rutin dan Dakwah Terbuka
Masjid Raya Sheikh Zayed tak pernah sepi dari aktivitas keagamaan. Setiap hari digelar kajian rutin yang terbuka untuk umum. Penceramah dapat disaksikan langsung oleh seluruh jamaah karena tidak ada sekat di bagian depan. Pemisahan jamaah laki-laki dan perempuan hanya dilakukan di bagian tengah.
Di saf perempuan, meja baca Alquran berbahan kayu tersusun rapi sepanjang barisan. Di atasnya, mushaf Alquran diletakkan satu per satu, menambah kesan estetis sekaligus khidmat.
Kajian tetap berlangsung sesuai jadwal, meski di sekitar lokasi tak jarang terlihat pengunjung mengabadikan momen dengan swafoto. Seluruh rangkaian pengajian juga disiarkan secara langsung melalui akun resmi media sosial masjid di @masjidzayedsolo.
Para pengisi kajian di antaranya KH Abdul Karim Alhafidz, Kiai Muhammad Shubhan, Habib Muhammad bin Yahya Baragbah, KH Mustain Nasoha, Habib Ahmad bin Muhammad Al Habsyi, Habib Alwi bin Ali Al Habsyi Solo, KH Makeup Achmad, serta Kiai Zainal Ashom. Kajian khusus perempuan turut diisi oleh Nyai Hj. Nurhidayah Idris Shotawi dan Nyai Hj. Sechah Wai Afiah.
Ramadan di Masjid Raya Sheikh Zayed bukan, selain ramai jamaah dan megah bangunannya. Ia juga merupakan perpaduan antara pelayanan, kedisiplinan, toleransi, dan semangat berbagi—sebuah ikhtiar kolektif agar setiap tamu Allah dapat beribadah dengan nyaman dan penuh kekhusyukan. (*)